Langsung ke konten utama

Jangan Pandang Rendah & Buruk Orang Lain



Tidakkah sering kali untuk beberapa orang selalu merasa asing dan aneh, ketika salah seorang perempuan berbicara tentang agama? Hanya karena dia belum melakukan salah satu syariat Islam, yaitu menutup aurat. Ketika ia berbicara, kebanyakan orang akan menganggap rendah orang itu.


“Tahu apa lo soal Islam? Soal syariat Islam? Lo aja gak melakukan salah satu syariatnya, berhijab! Sok sok-an bicara agama!”


Memang tidak dibenarkan perempuan baligh (sudah haid), tidak menutup auratnya. Dari rambut sampai ujung kaki (kecuali wajah dan telapak tangan). 


Wallahu'alam teman-teman, bisa jadi perempuan itu lebih mulia dihadapan Tuhan-Nya daripada orang yang memandang rendah dan buruk terhadapnya. Wallahu'alam, siapa tahu ia selalu menengadahkan keluhannya ke langit cakrawala dalam munajat di malam hari. Siapa yang tahu, kalau perempuan itu punya satu kebaikan yang tidak dimiliki orang lain. Jangan pernah memandang seseorang dari penampilan, status sosial dan hartanya. Karena sepatu emas Fir'aun berada di neraka dan sendal jepit Bilal bin Rabbah terdengar di surga. Bro, bunga teratai yang cantik sekalipun mekar meski tinggal di air yang kotor! Hidayah bukan ada di tanganmu! Bahkan orang baik sekalipun punya masa lalu dan orang jahatpun punya masa depan. 


Ketika Jalaluddin Rumi di beri pertanyaan oleh seseorang tentang keadaan manusia:

  1.  Manusia yang rajin ibadah, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci.
  2.  Manusia yang tidak pernah ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun dan cinta sesama.


Lalu beliau menjawab, keduanya sama-sama baik. 


Pertama, bisa jadi si ahli ibadah yang sombong itu menemukan kesadaran tentang akhlaknya yang buruk, lalu ia akan menjadi pribadi yang baik lahir batin. 

Kedua, bisa jadi sebab kebaikan hatinya, Allah swt akan menurunkan hidayah, lalu ia akan menjadi ahli ibadah yang memiliki kebaikan lahir batin.


Kemudian orang tersebut bertanya kembali, “lalu siapa yang tidak baik kalau begitu?”

Syeikh Maulana Jalaluddin Rumi menjawab: “Yang tidak baik adalah kita. Orang ketiga yang selalu menilai orang lain secara RINCI, namun lalai untuk menilai diri sendiri.”


Semoga kita bukan salah satunya, semangat!

Komentar